Pages

Saturday, 2 February 2013

Rest (in peace)

mungkin semuanya akan jadi lebih baik,
saat kita lupa caranya duduk diam dan menikmati manuver burung migran dari utara.
saat hujan menjadi serupa krikil panas dari neraka, bukannya air gula dari shower raksasa.
saat raung knalpot adalah dentum meriam pertama, bukannya dering bel sekolah.
saat sabda para motivator adalah sebuah melodi surga, bukannya orang asing berisik yang tak perlu kita gubriskan apa kata-katanya. 
mungkin hanya di surga cita-cita tak butuh penyesuaian apa apa.
beberapa gadis desa tak perlu melacur hanya demi modal dagang dan kemampuan menjahit apa adanya.
kaum lelaki tak perlu jadi anjing-anjing pemerintah dan korporasi demi melamar sang pujaan hati.
dan kau tak perlu berdandan selayak alim ulama agar tetanggamu bisa tau caranya menghormatimu. 

kelak di batas dunia yang kau sebut surga. kau diperkenankan memakai calvin klein tanpa harus semenarik pramugari maskapai penerbangan.
diperkenankan kau jadi kritikus tanpa perlu pernah menulis buku. 
jadi guru tanpa perlu "biaya transport" untuk hidup. 
dan mungkin kau diperkenankan mencintai sekaligus memiliki.
tentu saja tanpa mahar dan perangkap administratif, bahkan tanpa perlu khawatir akan mertua yang tak tau diri.

berbahagialah kau di sana. kelak di surga, kau bebas menjadi apa saja.
kau bisa menjadi makhluk imaji atau pahlawan super setiap hari.
kau bisa menjalani harimu yang baru sebagai spongebob atau manusia dengan ego ala bruce wayne.
jangan lagi jadi dirimu sendiri. 
berubahlah. 
bukankah kematian adalah sebuah kehidupan baru? kau tak lagi berada di panggung saudaraku. lepaskan topeng penuh kepasrahan itu. 
berburulah ubur ubur atau bercintalah dengan 7 bidadari sekaligus, 
bukankah itu yang dijanjikan Tuhanmu?


berbahagialah dan nikmati semua cita-cita yang kini (bisa) kau capai saudaraku.

ps: kepada bayi bayi yang mati ditelantarkan ibunya.

Thursday, 3 January 2013

sejak

Sore itu langit berwarna kemerahan. Awan abu-abu pucat mengarah ke utara dan burung Gelatik Jawa bersenandung di parabola atap-atap rumah. Langit kotaku kala itu berada di antara sisa mendung dan jingga senja yang meriah. Di sepanjang jalan darmo yang notabene menjadi pusat pergaulan dan pergumulan, lalu lintas padat merayap. Pohon Trembesi meneteskan air sisa gerimis dari celah ranting dan permukaan dedaunan.

nada pesan singkat membangunkan tidur nyenyakmu.

***
Perempuan itu terbangun dari tidur siangnya yang biasa. Tangannya refleks menggapai ke samping, meraba meja kecil di dekat peraduan mimpinya. Mengambil kacamata tebal yang selalu ia kenakan untuk memandang ruang yang dia hafal betul di kepala. Lantas bersusah payah duduk dan membaca pesan singkat di telepon genggamnya, sambil membetulkan letak sandaran kepala.

Pesan menjijikkan itu hanya terdiri dari 4 huruf. Klise dan terangkai membentuk kata paling murahan sedunia, paling menjemukkan, dan paling tidak berdaya bagi apa-apa yang telah patah.

"maaf"

tanpa titik tanpa spasi, tanpa sisa ego dan batas hierarki. Tanda baca hanya akan membuatnya hiperbolis. Dia tidak butuh itu. "omong kosong" katanya. "Tidak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini daripada permintaan maaf yang tak pada tempatnya".

Lantas wanita itu melepas kacamatanya. Meletakkan benda itu lebih jauh dari jangkauan tangannya. Di meja kecil di sisi tempat tidurnya, di sebelah kotak kecil yang mengeluarkan radiasi tempat pesan itu tertera. Dia tidak ingin terbangun (lagi) untuk sesuatu yang sia-sia belaka. "Sungguh kenikmatan negri utopis mana yang bisa kamu dustakan kisana?", batinya berkata. Tiap suara terisi hampa, pelan-pelan Buminya kedap suara. Hening.

Lantas cahaya perak muncul dari balik gelap yang tidak pernah ia suka.

***

Di negri utopis tempatmu berdiri saat ini, sebuah pesta tergelar meriah. Di sebuah tanah lapang yang rumputnya sedikit basah. Di bawah barisan pohon yang sebagian dedaunannya berwarna kuning dan merah. Lampu-lampu taman menyala terang di hari yang benderang. Manis sekali. Semanis senyummu di suatu pagi yang berembun namun cerah.

Di sebelahmu berdiri lelaki itu, Makhluk surga yang diklaim semesta untukmu. Lelaki paruh baya berwajah tampan, dengan dua mata berwarna coklat cerah yang menggemaskan. Yang di kedalaman tatapannya kamu tenggelam dalam kedamaian yang syahdu nan teduh. Lelaki tanpa nama tersebut sedang menggenggam tanganmu dalam busana yang serba putih. Sempurna sekali. Kamu tak lagi perlu khawatir dikhianati bahkan oleh persepsimu sendiri.

***

Nobody said it was easy  
It's such a shame for us to part  
Nobody said it was easy  
No one ever said it would be this hard  
Oh, take me back to the start
 

I was just guessing at numbers and figures 
Pulling the puzzles apart  
Questions of science, science and progress  
Do not speak as loud as my heart
coldplay - the scientist

Di Bumi yang sedang tak kedap suara. Lelaki itu menatap jauh kedalam layar kaca. Mengembara dari satu dunia ke dunia maya. Di malam yang temaram, bulan bersinar lemah, angin membawa kenangan bergerak cepat. Melawati ruang-ruang padat yang telah retak. Pujangga picisan yang menyedihkan. Pengembara bertampang lusuh, dengan bekas luka dan masa lalu yang patah.

Di sebuah bilik pengakuan. Siapapun yang mengagungkan kejujuran, mungkin takkan pernah siap dengan sebuah kenyataan nista. Ikhlas memang tak pernah mudah, tak semudah berkata "ah" saat menemukan sesuatu yang istimewa. Semua orang merasa berhak bahagia. Merasa berhak atas hidup yang sempurna. Setelah ini semuanya takkan sama. Mungkin di matamu, kita tak lagi paripurna.

"seseorang yang baik akan dipasangkan dengan yang baik, begitu pula yang buruk dengan yang buruk. atau mungkin saja yang baik akan dipasangkan dengan yang buruk, agar yang buruk bermetamorfosa menjadi yang baik." adalah sebuah kata-kata bijak yang tak pernah lunas dipersiapkan. Seperti halnya True love never run smooth.

Hal yang paling menyenangkan adalah saat keberadaan kita menjadi alasan seseorang berbahagia. Segalanya menjadi lengkap dan berarti. Saat bahagia itu lenyap dan kita tak dibutuhkan lagi, mungkin ada baiknya kita pergi. Meninggalkan kenangan yang baik. Membiarkan orang tersebut mengejar apa yang pantas dia miliki.

setidaknya, kehadiran dan kepergianku tak sia-sia untuk hidupmu.

Sunday, 9 December 2012

kontemplasi bulan baru

pagi itu satu jam setelah azan subuh. sepasang pejalan kaki dengan langkah rapuh menderapkan kakinya di jalanan aspal kualitas KW. beberapa wanita berusia 37 hingga 70 tahun menggelar dagangannya di pasar yang tampak kumuh. sayuran, ikan, daging , dan bunga-bunga segar yang baru turun dari pickup dan truck tampak begitu kontras dengan raut mereka yang akrab dengan rasa lelah dan kantuk.
waria dan PSK pulang ke peraduannya dengan tampang lusuh. berselimut peluh hingga mungkin tak punya cukup waktu untuk mengeluhkan hidup yang seharusnya teduh.

siang itu, pemuda-pemudi kota berkulit putih beringsut membetulkan sandaran kursinya dengan wajah yang tertekuk keluh. kemuliaan diri ada pada pundi-pundi rupiah yang ditawarkan korporasi tertentu. pada tangan kiri seorang buruh, jam menunjukkan pukul 14.30, keinginan yang subliminal berhadapan dengan kebutuhan yang substansial. demi apa? kerajaan seperti Qorun dan Sulaiman?

sore itu, jalanan ramai oleh lelaki paruh baya yang berharap sampai di kediamannya lebih cepat. warung kaki lima mulai bersiap. menunggu konsumen pertama membrondong rakus dagangannya untuk disantap.

petang itu, seorang anak kecil memakai sarung berwarna biru berjalan riang, melewati taman yang penuh penjaja jajanan khas jalanan. mesjid terdekat melagukan bait-bait prosa melalui toa dan soundsystem yang tidak pernah kompak.

malam itu, di warung kopi premium dan kaki lima penuh paras berbagai bentuk. yang tertawa penuh dan tersenyum separuh.
di sebuah meja bundar sesekali terdengar denting sendok kecil yang beradu dengan cangkir berwarna putih. kali ini uap panas berisi kopi baru saja terseduh. tidak ada suara tangis sama sekali. semua akan tidur dan esok akan terjadi.

idealisme bukan ada di kepala, namun terdapat pada perut yang terisi penuh dan sensasi surga yang berada di sekitar lipatan paha. negri ini berevolusi. industri dan ekonomi. pola pikir dan hati nurani. sains dan agama langit. para penyedia rasa dan Sang Maha berkonspirasi. malam masih panjang kisana. jangan cemaskan lamunanmu perihal hidup. jatuh cintalah. 

hanunah

membiarkan rasa berada pada posisi yang seimbang memang bukan perkara mudah. kita pahami betul hal itu pada suatu malam yang teduh. saat bulan hanya bersinar separuh. dan hati kita mulai menunjukkan debar yang begitu gemuruh. cukup.

yang kita rasa ini bisa berlaku seperti air . mengalir, lantas memecah hingga pada molekul yang paling sederhana. hingga pada akhirnya, kita tak luput pada reduksi tapal batas hitam dan putih. kamu pernah menjadi senyawa asing dalam hidupku, lantas pada separuh malam, kamu menjadi potongan mozaik yang kucari selama ini. seperti halnya kehilangan, keinginan yang terjadi bertubi-tubi juga belum tentu bisa tuntas kita persiapkan.

menurutmu, apa salah cinta hingga harus dihakimi pada batas waktu tertentu? atas nama masa depan aduhai dalam benak mereka yang menilai? apa yang salah darinya hingga kita terukur pada batasan umur, waktu, dan mungkin saja, materi.

kitapun mengamininya bersama. berlenggang seperti dokter yang memvonis pasien pengidap kanker.

rindu bukan hal pribadi bagi mereka yang saling mencandu. lain cerita jika kedua huruf itu membentuk kata curiga dan cemburu.

saat aku menemukanmu, aku akan menemukan keberanianku dan saat aku menemukan keberanianku aku (akhirnya) menemukanmu. terima kasih.

kamu, kenapa begitu candu? seakan-akan menjelma jadi telaga rindu.

Tuesday, 13 November 2012

kepada tulip merah di halaman perdu

pada sebuah narasi, kamu adalah bait-bait puisi.
secercah cahaya di antara deskripsi senja dan pagi.

pada hamparan biru, 
kamu adalah gumpalan awan di langitku, 
beludru putih dan abu-abu yang membawa bibit rindu.

"sekarang kucukupkan saja kita dengan rasa sayangmu padaku, dan mudah-mudahan cukup juga bagimu rasa sayangku." (1 November 2012)"

ya, semenjak hari itu, kita mencintai dengan asumsi yang berbeda. kamu mencintai tulisanku. aku mencintai kesunyianmu, hatimu. tempat segala pertahananku luruh, jauh sebelum mencapai batas kelu di lidahku. kita sama. perihal rasa. perihal cinta yang tidak pernah bisa di jelaskan kata-kata bertanda baca.

akan tiba pada suatu ketika,
semuanya beresonansi di vibrasi yang sama. menciptakan gema seperti sangkakala atau sebuah melodi indah yang sederhana.
 
akan tiba pada suatu ketika, 
kita akan terantuk dinding tebal ingatan atau perihal cerita lama yang sering kita perbincangkan. lantas aku akan butuh berhenti sejenak mengobati luka, membersihkan yang tidak perlu kita berdua bawa selamanya. hingga saat itu tiba, akankah kau tetap mengagumiku?

kita duduk berhadapan di sebuah meja bundar tanpa tepian dengan sudut tajam. setara.
dihadapanmu-dihadapanku, kita pertaruhkan dua hal yang sama. waktu dan hati, yang mungkin beralas sebuah obsesi kompulsif. pemenang mendapatkan semuanya. atau kita bisa saling mengalah lantas menanggalkan segalanya. 
sebelum berlalu menuju arah yang sama. 

mutiara di lautku. sekarang kamu bisa berhenti mencemburu. diammu jauh lebih dalam dari lubang hitam yang ditelaah pemikiran Einstein. lebih gelap dari ketenaran yang menghampiri kurt cobain.
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī - Tokoh Ilmuwan Penemu - http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/08/ilmuwan-matematika-aljabar-islam.html
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī - Tokoh Ilmuwan Penemu - http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/08/ilmuwan-matematika-aljabar-islam.html
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī - Tokoh Ilmuwan Penemu - http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/08/ilmuwan-matematika-aljabar-islam.html
bisa bayangkan itu? kelebihanmu, kelemahanku. jangan tempa aku dengan sesuatu yang cuma bisa dihadapi huruf rajah, dupa, atau kitab kuning. aku bukan sufi yang menasbihkan fatwa rindu dengan seucap saja kalimat kalbu.
jangan mengujiku dengan menjanjikan sesuatu. seperti aku tak pernah berjanji perihal apapun padamu.
aku tak menjual janjiku. yang kuperjuangkan peluk sayangmu.
sisi manusiamu.

ps:
aku iri pada seorang yang telah ditempa membawamu lebih jauh.
pada seorang yang bisa membawa bayang-bayang terbang menembus batas semu.

Monday, 29 October 2012

berisik

jika dalam kesunyian Tuhan bersemayam, apakah meminta diselamatkan dari kesepian itu terlalu berlebihan? karena sunyi dan sepi sepertinya tidak memiliki hubungan, seperti persimpangan yang akan mengarah pada kesesatan.

Hal yang paling menyebalkan adalah dibesarkan dengan definisi kematian dalam bentuk mentah atau setengah matang, mengagungkan besarnya ketidakberdayaan bukan perihal keberserahan, lalu dibiarkan sendiri dalam ruang gelap ketidakpahaman. disepanjang jalan menuju cahaya terang, beberapa dari kita jadi tidak peduli pada iblis dan malaikat yang berlalu lalang. hati telah dilengkapi sebuah revolver dan kompas menuju tanah bercahaya yang dijanjikan Tuhan. tanah terang pemahaman dan kedamaian. surga yang dijanjikan. sampai atau tidak, tugas kita hanyalah tetap berjalan menuju tempat berpulang. maju dengan berbekal keyakinan bahwa Semesta tak mungkin ingkar janji.

pada buku kimia, fisika, dan biologi pelajaran SMA, pada label minuman soda dan camilan ringan, dan bahkan pada ayat-ayat suci yang tercetak di alam, cara terbaik untuk mati dapat diakses begitu mudah. mau mati konyol atau elegan? ha, mati adalah kata keparat yang ingin saya lumat perlahan dengan geraham, tentu saja untuk kembali dimuntahkan dengan penuh kebencian. bisakah kita ganti kata mati dengan kata "pulang"?. "pulang" terdengar lebih damai dan meneduhkan.

***

apakah kesepian itu lahir dari kecemasan berlebih? dari rasa takut yang berevolusi?
semangat saya seketika tersedot habis. 2 hari ini begitu menyebalkan, bangun pagi dengan kepala pusing akibat deja vu yang terjadi di fase mimpi, tubuh yang entah kenapa jadi lelah sekali, lagi-lagi saat pagi. pagi yang diawali dengan hal menyebalkan akan mengontaminasi pikiran kita hingga malam menjelang. manusia adalah makhluk rapuh yang dibentuk saat pagi datang. ternyata intonasi dan kata-kata mampu menjelma jadi dementor. kebahagian saya habis, dilumat kecupnya.

ah, saya bahkan jadi malas memaki. mungkin ini waktunya saya selamatkan fondasi semangat yang telah mulai dibangun jauh-jauh hari lalu dengan beberapa lagu religi. distorsi merdu suara gitar sebuah kelompok musik bernama "seringai". kenapa bukan ayat kitab suci? karena lantunan irama tragedi, akselarasi maksimum, dan mengadili persepsi terdengar lebih cocok jika dipadu dengan racikan kopi dan coklat murah yang saya beli di indomaret dekat rumah, lantas mengeluhkan rasa kesal yang dibawa sejak pagi di sini. (jawaban yang sepertinya butuh diperjelas, tapi saya terlalu malas)  ^_^

***

lelaki harus menggantikan air matanya dengan amuk yang tidak kentara. dua tahun mencandu ternyata belum mampu menyembuhkan kelemahan saya pada segala hal yang abu-abu. pada waktu. pada ketenangan hati seorang yang menua dan akrab pada rindu. pada dia yang sedang menunggu di tempat itu.

bagaimana mungkin semangat dan keberanian bisa dibentuk dari kecemasan belaka? kecemasan akan melahirkan keluhan, keluhan melahirkan kemalasan, kemalasan akan melahirkan ketakutan, lalu ketakutan akan kembali melahirkan kecemasan, proses itu akan terus berulang hingga terjadi patahan di beberapa bagian. dan patahan itu bisa didapat dengan ketidakpedulian. apa mau dikata, jalan pintas untuk menyembuhkan kelemahan adalah menjadi seseorang yang bukan diri sebenarnya. harusnya saya sudah menembak mati diri sendiri kerena mencoba berubah lebih baik dengan membunuh diri saya yang lain.

manusia dipaksa hidup dengan nafsu membunuh sebagian dirinya yang lebih lemah dan rapuh. saya tidak luput dari kutukan itu.

***

saat hati seorang lelaki menjadi begitu melankolik dan rapuh, ada baiknya organ itu tersimpan dan terkunci rapat di lemari pembeku. silahkan pakai kembali jubah nafsu dan menyaru seperti omong kosong bertuliskan "aku mencintaimu".

anggap saja tulisan ini saya abadikan di secarik perkamen usang yang kemudian saya masukkan dalam botol bening bekas cairan hitam seharga 30ribu. nanti akan saya hanyutkan di laut selatan yang terhubung langsung dengan kerajaan neptunus. ah, sepertinya saya kembali meracau. baiklah, saya hentikan di sini. ciao.
selamatkan aku, permintaanku sesederhana itu.

Saturday, 27 October 2012

perempuan (jilid 1)

To be a human is to be destroyed. mungkin saya terlalu sering menghancurkan tubuh (hati) saya sendiri demi yang saya cintai dengan hati-hati, bukan dengan logika, kemaluan, dan rasa ingin menguasai. 

cinta tidak buta. cinta itu tuli -anonymous.
itulah yang saya amini.
genap dua orang kawan akhirnya melabeli saya sebagai perayu ulung kelas pengecut (hanya merayu, tapi tak berani bertindak lebih jauh). entah ini penghinaan atau pujian, yang jelas saya tidak peduli. love spreading method bullshit.

jika tindakan yang acap kali dimaksud itu adalah ajakan kencan, bercakap empat mata, jalan-jalan, ngopi, membicarakan kawan, atau nonton bioskop, wah benar itu sama sekali bukan gaya saya. bahwa mereka tidak pernah mengenal iblis dalam diri seorang lelaki paruh baya. mereka yang menghabiskan waktu dengan kisah standard mahasiswa cum laude, lulus, kerja asal-asalan, jalan-jalan, dilamar pria mapan lalu menikah muda tentu tidak paham kisah para veteran kesunyian. perempuan tidak pernah tau, betapa sulitnya menundukkan pandangan, betapa berat mengendalikan naluri liar hewan yang mendekam dalam diri manusia.


***

kelak, perempuan itu akan saya datangi atas nama cinta, perempuan yang bersamanya kelak saya berjalan pulang. perempuan yang juga mendekat dengan keikhlasan, bukan hanya berbekal ego untuk hidup mapan dengan merelakan tubuh mulusnya saya nikmati dalam keadaan telanjang. perempuan yang menggenggam tangan saya dengan rasa sayang dan cinta yang membesarkan. bukan hanya merengek-rengek sekedar minta diperjuangkan.

Pegang erat pinggangku saat kita melaju di atas bintang-bintang,
Dendangkan serta lagu kesayanganmu seperti sedia kala 
Di mana kita terangkai bersama.

Pegang erat pinggangku saat kita melaju di atas dua roda,
Dendangkan serta lagu kesayanganmu seperti sedia kala 
Di mana kita terangkai bersama
-erros - pe de


andai kita adalah makhluk dalam negri utopis. tentu sudah saya nyatakan kalimat itu.

"seiringlah denganku". seiring seperti yang tertulis pada Injil dan Qur'an jika kamu pahami itu.

namun, sungguh naif. cinta tidak pernah ada pada mulut yang mengejanya dengan fasih. tidak pada huruf yang terangkai puitis dalam hitam dan putih.
cinta selalu dapat disimpulkan absolut oleh lembar-lembar kitab suci dan bulir air yang muncul saat logika sedang rapuh untuk berdiri sendiri.