Pages

Sunday, 3 May 2015

Bandung pada Pandangan Pertama

Setelah beberapa bulan proses pengamatan dan aklimatisasi,  akhirnya saya punya keinginan lagi untuk menulis. Untuk saat ini, Bandung punya segala yang hati saya butuhkan. Hawa yang bersahabat, juga rintik hujan yang seringkali lembut. ya, hujan kerap mengguyur kota ini semenjak kepindahan saya pada bulan Januari kemarin. Saya resmi menjadi kaum migran di Bandung. Untungnya, ini bukan kali pertama saya menetap cukup lama di sebuah kota yang asing. 

Pagi, siang, dan sore hari di Bandung tahun 2015. Panas dan macet. Dua kata ini mulai akrab digunakan untuk menggambarkan kondisi Bandung pada hari kerja. Namun, mengingat dikenalnya kota ini sebagai destinasi wisata dan kota belanja, dua kata tersebut juga tetap berlaku di hari libur. Akibat pembangunan dan persebaran penduduk yang tidak merata, "Jakarta syndrome" mulai merambat ke banyak kota. Dua di antaranya adalah di Surabaya dan kali ini Bandung.  

Sebagai orang baru, terus terang saya tak bisa menggunakan kata macet dan panas untuk menggambarkan kota Bandung. Pertama, karena hawa di Surabaya bisa lebih panas berkali-kali lipat. Dan kedua, karena saya sangat jarang membawa kendaraan menyusuri kota. Yang pasti, sebagai orang yang cukup lama ditempa perlintasan kota Surabaya, jangan bandingkan kondisi lalu lintas di Bandung dengan Surabaya. Pokoknya jangan. Netizen Surabaya bisa kelewat bangga.

Tapi ingat, Tuhan menciptakan Bandung sambil tersenyum. Jika ada bagian yang dikurangkan, selalu ada bagian yang dilebihkan. Karena cuma di Bandung saya bisa tetap nyaman menghadapi macet. Inspirasi bertebaran di mana-mana. Cukup memanjakan mata para pujangga dan entrepreneur. Di tempat seperti ini, para penakluk seperti Bruce Wayne dan Tony Stark bisa lahir, tinggal, dan menetap. 

***

Bandung di gelap malam. Lampu kota serentak dinyalakan. Di tiap gang kecil yang dilewati sungai, geliat kehidupan begitu kentara. Para perantau mengistirahatkan sekejap mimpinya dari degup yang keras seharian. Dering alat komunikasi terdengar di sana sini. Jarak tertebas. Uang jajan tertindas.

Di jalanan Dago yang riuh oleh deru mesin dan pendatang, ibu-ibu penjaja bunga ramai berjejer di tepian. Selalu ada mawar putih segar tiap Sabtu malam. Tak perlu takut kehabisan. Semua bisa kebagian. Semua bertebaran atas nama cinta.

Di Bandung, tak perlu merasa rendah pada kesiapan, tak perlu takut pada kesepian. Karena ciptaan Tuhan yang patut ditakuti hanya.. 



waktu.




Saturday, 3 January 2015

Januari 2015


Post Scriptum: Mengawali tahun baru dengan lagu feels like home - ten to five. 

Lamat pagi jadi biru, lalu bisu.  
dan rindu
meninggalkan jejak haru, lalu waktu.
dia di sana, berhenti.

di kamu.

Selamat menempuh hidup baru

Saturday, 13 December 2014

Sapardi bilang: aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Aku ingin mencintaimu dengan segalanya,
Biar waktu yang menjadikannya abadi. 
aku lalu mencintaimu dengan delusi,
biar suatu ketika kebermaknaan tuntas dipelajari. 
aku lupa mencintaimu karna apa,
biar serta jarak menebasnya tempias. 
aku pernah mencintaimu dengan amuk juga murka,
biar sebermula bertemu masanya.  
aku tak bisa mencintaimu dengan sederhana,
Biar pada mulanya Tuhan bersabda apa.


Post-scriptum:
kenapa oh kenapa nulis beginian lagi. Ini mesti gara-gara hape lucak, adem, +  kurang piknik, dan kelon. aku jadi bosan dengan penat, dan enyah saja kau pekat. halaahhhh..... madrid.. glory glory you never walk alone.. T_T

Wednesday, 10 December 2014

Berawal dari mimpi, berakhir di Customer Service?


Kabar duka. Telepon seluler saya tiba-tiba menemui ajalnya. 

Kronologinya begini, 
Pagi tadi seusai posting beberapa foto di akun instagram, saya tertidur. Dalam mimpi, saya bertemu patih Gajah Mada. Sang patih mengatakan bahwasannya jiwa saya tak lagi bersih. Saya disarankan untuk rajin sholat dan meditasi. Tujuannya untuk menghindarkan saya dari bicara yang tak perlu atau lupa diri atas pencapaian-pencapaian tertentu di akun path atau instagram. Saya menolak. 

"eeiit.. Sampeyan iki kan ra melu ngopeni aku, due hak opo gae ngongkon-ngongkon?.. Ketok keren, cabul, atau nggilani adalah nasib masing-masing. iku urusanku.
saya coba melawan dan mempertahankan harga diri. 

Mendengarnya, patih legendaris kerajaan jawa kuno itu menghela nafas panjang. Kumis tebalnya bergerak tak simetris menahan marah dan bersin. Dia-pun pamit "moksa" sambil "nggerundel". Lalu suasana menjadi gelap sekelam malam. 

***

Tak berapa lama, saya seakan kembali menjejak Bumi. Namun kemanapun mata memandang, hanya ada awan putih sebagai "kaldera". Matahari bersinar ganjil karena tertutup pelangi biru dan hijau tosca. Di depan saya duduk hanoman dengan gadanya yang terbelah dua. 
"ckckck.. tole tole.. kowe iki piye tho.. dikandhani wong tuwek kok mlete..hhhhh.. kene lungguh, aku pe curhat.."
 Tanpa menunggu lama, saya-pun ikut duduk "metingkrang" di depan hanoman.
"ngene le,, aku sengojo nyeluk awakmu merene mergo aku ki sumpek. Aku pengen belajar elmune menungso sing marai awak-awakmu kui iso tetep keep smile dengan segala angkara-murka yang sedang munyer-munyer memenuhi lapisan Bumi." 
 Saya mendengarkan dengan seksama.
"le, Selidik punya selidik, menungso jaman saiki due elmu mahasakti. Kabeh empu antar dimensi wes tak takoni, ra ono sing menguasai... mmm.. ngene le,, aku ajarono elmu selfie" 
la mafia la mafia.. 

Hanoman minta diajari "selfie". 

Bayangkan, kalau sampai hanoman tau caranya selfie, bukan menutup kemungkinan dia juga akan merengek buat bikin akun facebook, twitter, dan path. Apa ndak bakal geger dunia silat pewayangan?. Bakal musnahlah segala imaji dalang, karena hanoman telah menampakkan diri sebagai makhluk kasat mata. Dia bakal diburu wartawan infotainment dan mungkin juga akan disembah sebagai selebtwat pesaing Jonru. Lalu televisi nasional akan berlomba-lomba melejitkan kembali namanya sebagai sesosok "artis FTV". 

Hanoman mungkin akan main di berbagai judul film:

Hanoman tukang bubur. Hanoman naik haji, Hanoman-cinta-dan-Rock n Roll. Catatan hati istri hanoman, Ganteng-ganteng hanoman. Dan puncaknya, hanoman kelak akan beradu akting dengan Dian Paramita Sastrowardoyo dalam film "ada apa dengan Cinta dan hanoman". 

Ciloko! 

Di nirwana, Trijata bisa cemburu. Bukankah konon tak ada yang lebih gawat daripada cemburunya seorang kekasih?

Saya lantas menolak.
"le, sungguh le, bosan aku dengan penat, 
dan enyah saja kau pekat, 
seperti berjelaga jika ku sendiri." Hanoman merajuk
Saya tertegun. Agaknya saya lupa bahwa hanoman adalah jomblo-jomblo terlantar yang tidak diurus PNS sebagai abdi negara. Lihat saja caranya mengiba dengan puitis. Cinta yang S2 saja bisa klepek-klepek dibacakan puisi Rangga tersebut, apalagi saya. Apalah saya ini, cuma remah tepung goreng di sepiring ote-ote.

"Hmm.. ngene Man, aku raiso ngajari sampeyan selfie, tapi aku iso nggowo pean berguru ke orang yang tepat. piye?"
"jiyaaahh... hmm.. yowes lah le. tak mengapa, toh tak ada pertemuan yang sia-sia." 
"wokee.. tapi aku ajarono elmu kanuragan yo man"
"shit!! pe kanggo opo le?" 
"kanggo ngadepi psikotes BUMN utowo CPNS man.." 
"hmmm.... yowes.. bar ngene kowe tak ajari elmune kitab omong kosong bagian kelima. iki elmu bukan sembarang elmu. Kabeh elmune empu-empu antar-dimensi bermuara nang kene. Gih ndang lungguh sing penak"
Hanoman lantas merapal mantra dengan tembang,

*

"Kitab omong kosong bagian kelima. Elmu Keheningan, tidak bisa dibicarakan selain dijelmakan. kekosongan menantang penciptaan. Kehidupan menjadi jalan pemahaman. Dalam peng-alam-an, manusia menuju pencerahan. Tanpa keheningan, kebergunaan hanya mencapai langit-di-luar. Bersama keheningan, kebergunaan menyatukan langit-di-luar dan langit-di-dalam jiwa. Menjadikan yang berguna sebagai yang bermakna. Dalam pembermaknaan manusia mendunia, dalam pembermaknaan dunia memanusia. Makna menjadi kesegalaan dalam kemanusiaan, Menjadi mahamakna yang menentukan, dalam penjelajahan manusia yang mencari, sepanjang semesta kesunyian. ooooo...."
Hanoman mengakhiri tembangnya dengan kalimat oo yang panjang. 

"nah le, kowe wes tak ajari elmuku.. saiki aku gowoen ke Maha Guru elmu selfie."
  
"Loh.. man, aku iki rung paham tembangmu.." 
"le, elmuku iku baru iso mbok pahami nek kowe wes tangi.. koe gak ngeroso lagi ngimpi ta iki?"

Saya pun terkejut. 

"hmm.. iyo.. yo.. yawes man, gini. seperti kesepakatan kita.. sampeyan tak bawa ke maha guru elmu selfie.. sek tak nyalakno hapeku.."

Saya segera menyalakan handphone dengan tangkas. Memasukkan kode pola, dan menunggu load screen,. Hanoman melihat dengan takjub. 

"Edyan.. opo iku le?"
"Iki pusokone berjuta umat menungso. Cilik-cilik ngene iki sakti man. Konon mergo barang cilik ngene iki menungso iso dadi penguasa lan dadi seonggok taek." Hanoman mantuk-mantuk.
"Pusoko iki iso digae dakwah, iso digawe maksiat, iso digae mbribik, lan iso digae hipnotis, bahkan pusoko iki iso didadekno altar gae panggon ndungo. Ora butuh sajen aneh-aneh. Cuma butuh batre lan Pulsa 50ewu. Nah ngene man, geh mrene.." Hanoman nurut, lantas duduk di sebelah saya dengan sigap.
"Pean jik iling film yoko gak?" Hanoman mantuk-mantuk dengan antusias
"Nah, sampeyan iling gak pas adegan yoko di kurung njero guo, terus nang guo de e diajari bibi lung silat kuno yang gerakan-gerakannya di pahat nang dinding njero guo?" Hanoman mantuk-mantuk dengan sumringah
"nah, pean anggaplah Instagram iki sebuah guo sing jerone penuh pahatan gerakan-gerakan silat. Tapi, sampeyan kudu melbu ke mulut goa yang tepat. Gak semua gerakan di sini adalah gerakan yang tepat. nah sing tak bukakno iki adalah pintu goa yang tepat. Pean kudu khatam lan pelajari tenan seluruh gerakan selfie nang kene."
"hmm.. kok isine wedok kabeh?" Hanoman dihinggapi ragu.
"Lhoeeeekk.. man, jangan salah.. cuma priyayi-priyayi nang akun Pramugari_indonesia dan UGM_cantik inilah yang paham cara selfie yang baik dan benar. Mereka mengenal betul lekuk-lekuk terbaik dari paras mereka. Mau seperti apapun, hasil selfie mereka selalu terlihat sempurna. Sampeyan kudu belajar nang Guru-guru besar ini"

"hmmm.. ngunu yak..." 
"iyoooo... yawes, ngene iki mumpung aku nang kene, pean kanggo hapeku sek." 
"TENAN? Matur sembah nuwun nggeh le.." 
"sami-sami man.." 
"WOOHOO..." Hanoman berteriak girang.

Saya yang kaget dengan teriakan hanoman lantas terbangun. Saya sadar itu cuma mimpi. Dengan reflek saya segera menjangkau handphone yang tergeletak tak jauh dari badan saya di kasur. 

......... Bumi gondjang-ganjing. Langit gondal-gandul. Telpon Seluler saya yang cuma satu-satunya tersebut tiba-tiba mati total. Dalam mimpi tadi, saya masih ingat jelas, hanoman masih menggunakannya buat belajar selfie.

jck!!!!



post-scriptum:
* Disadur dan diedit sesuka hati dari halaman 438 kitab omong kosong karya seno gumira. Ditulis sambil meratapi jasad Samsung Galaxy Wonder yang dingin.

Thursday, 18 September 2014

Kabar Burung

pohon ini mungkin berkisah terlalu jauh :)

Pukul 9 pagi, Matahari sudah cukup menyengat wajah, tangan, dan kepala. Angin bertiup kencang dari arah Timur. Beberapa burung pantai yang tak saya kenal namanya bermanuver di udara. Sesekali saya dapati kawanan tersebut seakan ingin menabrakkan dirinya pada orang yang sedang lewat. Selain tahu goreng di warung Bu Rum*, "fenomena" tersebut juga merupakan salah satu yang saya sukai dari tempat ini. Setiap tempat selalu punya keindahan dan mungkin "kenangannya" masing-masing.

Wonorejo menawarkan beragam hal untuk menarik khalayak. Dari waktu ke waktu, para pesepeda, pelancong, kaum akademisi, pemerhati lingkungan, juga para investor dan developer makin banyak yang berkunjung. Berhektar-hektar tambak ikan, udang, dan tanaman bakau terbentang di sini. Banyak yang mengira lokasi ini tak cukup fotogenic untuk dipamerkan di situs social-media. Tapi di jaman sekarang, tak ada yang tak bisa dibuat fotogenic oleh path, instagram, dan aplikasi smartphone di playstore. Dengan angel dan pilihan filter yang tepat, lebih dari satu jempol dan love emoticon bisa disematkan pada foto anda.

6 September kemarin, saya iseng mengiyakan ajakan seorang kawan untuk mengikuti kegiatan komunitasnya di Ekowisata-Mangrove Wonorejo. Pagi itu saya memilih keluar rumah dan ikut cangkruk bersama "Sayap Surabaya". Saya sendiri bukan seorang aktivis lingkungan. Seringkali hanya numpang ikut-ikutan di sela-sela waktu luang.


"aku nang *gajahan, mereneo ae"

Kampret. Saya yang jarang ke sana mana hafal letak tambak yang biasa dihinggapi Burung Gajahan*?

Tapi tak sia-sia saya berjalan 20 menit menelusuri ingatan. Hari itu ratusan pengamat burung pantai di Indonesia bersiaga secara serempak di berbagai titik pengamatan. Saya beruntung, hari itu bertepatan dengan world shore-birds day sehingga bisa bertemu langsung dengan seorang yang namanya tak asing di telinga saya. mas "Iwan Londo". 


***


"Seorang lelaki harus dibuat jatuh cinta selamanya pada seorang perempuan agar ia tak pergi". Mungkin bagi mas Iwan, perempuan itu juga menjelma dalam jalur yang dipilihnya sekarang. 

Mas Iwan bukan orang baru di dunia pengamatan burung pantai. Bahkan sejumlah negara mencatatnya sebagai pengamat burung pantai yang sangat serius. Mungkin mas Iwan percaya, pengamatannya ini bukan perkara sia-sia seperti jatuh cinta diam-diam yang menunggu dan mengandalkan mukjizat berkelanjutan. Menurutnya, burung pantai merupakan salah satu indikator ekosistem. Ada lebih dari 200 jenis burung pantai di seluruh dunia. Sebagian ber-migrasi ke Indonesia melalui jalur pantai. Burung-burung tersebut mengembara ribuan kilometer menghindari musim dingin di sub-tropis. Namun dalam dasawarsa terakhir, populasi burung tersebut cenderung turun akibat pembangunan yang merusak di kawasan pesisir. Pembangunan seringkali hanya mengenal mana yang untung dan mana yang rugi. Perkara apa yang akan rusak, itu urusan nanti. Wonorejo yang menjadi jalur migrasi burung pantai juga tak luput dari pembangunan-pembangunan yang cepat atau lambat akan mempengaruhi kondisi ekosistem tersebut.

Di negara-negara maju, kesadaran menjaga lingkungan semakin diperhatikan. Ruang hijau juga cukup diutamakan. Sungguh di sayangkan, sebagian besar masyarakat kita merasa harus lebih fokus pada presentase kenaikan UMR tahun depan. Bahkan sejauh yang saya tahu, kegiatan pelestarian lingkungan di Indonesia banyak yang dibiayai oleh lembaga asing. Mudah-mudahan kecendrungan ini segera berubah sebelum terlambat, dan menciptakan kepunahan. 



Sudah cukup saya bercerita, sekarang waktunya pamer foto:

Gaya bebas

pelajaran berhitung 101

Mas Iwan Londo (tengah)

(dari kiri) Hanoman, Arjuna, Agung Hercules, Badut, dan 2 kakak-kakak senior

diserang lapar, kembali menuju warung bu rum.

*post-scriptum 

gajahan adalah spesies burung dari keluarga Scolopacidae. info lain bisa didapatkan dari wikipedia atau menghubungi para birdwatcher. 
bu rum : warung jujukan kawan-kawan yang sering ke Wonorejo. 

Wednesday, 13 August 2014

"August Rush"

Tulisan ini bukan bercerita soal film drama august rush. Tapi toh film dan kehidupan nyata tak jauh berbeda selayaknya Bumi dan arasy yang agung. Hampir 2 bulan saya benar-benar mulai kehilangan jati diri. Kesukaan saya membaca, menulis, dan menjadi avonturir hampir musnah tanpa bekas. Saya tak sedang menyalahkan keadaan. Meminjam kata-kata Laksmi Pamuntjak, "Kewajiban adalah nasib masing-masing". 

Agustus ini kali kedua nasib tak menyatakan saya siap untuk menziarahi kaki Semeru. Tapi kekecewaan itu setidaknya sedikit terobati dengan kenyataan bahwa saya mampu membeli sebuah victorinox dan jaket untuk iklim gunung. Hasil belajar saya selama 8 bulan di sebuah korporasi.

Seperti halnya segala sesuatu yang bermula, nasib juga memiliki akhir. Tapi akhir bukanlah tulisan "fin atau The End" dalam sebuah film. Akhir adalah gerbang untuk sebuah awal baru dan kelak memiliki akhir yang lain. Bulan ini saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan lama saya. Ada banyak pertimbangan sebelum saya memutuskan resign. Sebagai bekal, saya juga membaca beberapa opini orang-orang di lini masa twitter. Sesekali tampaknya saya perlu untuk berbagi bahan bacaan. Blog kok isinya curhat hehehe: 

menurut Handry Satriago dalam salah satu twitnya, ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam berkarir:
1) Room for learning yang luas,
2) Work with great people
3) Produce something useful

Beberapa orang berkata, "menjalani nasib juga tak berbeda jauh dengan berjudi". Jika dadu telah dilempar, kita tak pernah tau angka berapa yang akan muncul. Saya telah melempar dadu tersebut, dan bersiap untuk menghadapi kesibukan yang baru. Yang tak mengharuskan saya menjadi tua di jalan. Atau masa muda yang bisa diakali seperti mesin. 

Karena kita membayar segalanya dengan umur, maka menjauhi kedunguan adalah harga mati. Berhenti buang-buang waktu, dan mulai berbuat sesuatu. 

Sunday, 15 June 2014

Tembang dan Dakwah (bukan untuk eksis di instagram)

Pukul 23.30 seratusan orang telah memadati lapangan balai pemuda. Panggung telah didirikan dan acara pembuka selesai dipentaskan. Kelompok "tikar merah" turun dari panggung.

Tepat tadi malam, purnama akhirnya mampir di malam Minggu. Walaupun tidak bulat sempurna dan sebagian kecil kota Surabaya turun hujan. Forum bangbang wetan terselenggara cukup meriah. Tengah malam dengan cuaca kota yang cerah.

Di lapangan yang tak terlalu luas, Berdiri sebuah panggung dengan tenda yang tak terlalu besar memayungi sebagian alas terpal. Di bawah naungan tenda, sebagian besar pemuda-pemudi duduk dengan khusyuk. Yang tidak kebagian alas duduk, tak kurang akal dengan membawa koran-koran bekas dari rumah. Mirip seperti suasana sholat ied, namun jauh berbeda dari ceramah keagamaan yang dibawakan ustadz ustadzah kondang di tv. Agaknya acara ini bukan menyasar pantat-pantat gemuk berbaju takwa seharga ratusan ribu rupiah.

Sesekali asap rokok mengepul di udara. Tak banyak suara bising dan berisik seperti dalam konser-konser musik. Pedagang kopi dan air sebagian berkeliling atau berlalu lalang di pinggir kerumunan. Di belakang massa yang duduk bersila, satu-satunya stand buku dan pernak-pernik berdiri secara manunggal.

Moderator menanyai sebagian jamaah yang kebetulan diserahi sebuah mic. Sebagian orang yang kebetulan mendapat kesempatan bicara tersebut adalah pemuda-pemudi yang baru pertama kali menghadiri forum ini seperti saya. Mulanya saya memaknai hal tersebut sebagai upaya basa-basi. Tapi saat acara benar-benar dimulai, prasangka saya terbukti salah.

Kurang lebih pukul 00.00 yang ditunggu datang. Memakai busana sederhana dan jauh lebih merakyat dari baju kotak jokowew dan baju safari prabowew. Tanpa kopiah dan baju takwa yang seringkali dibuat lebih besar dari tubuh seorang bekas santri. Tak butuh waktu lama, seketika atmosfir di lapangan berubah.


***

Tikar Merah mengisi jeda dengan paragraf-paragraf sajak dan koreografi. Tembang-tembang purba mengalun. Alat musik modern dan tradisional mengiringi pentas untuk melebur satu. Tak lama, sebagian orang larut dan ikut bertepuk. Sebagian membisikkan Lafadz-lafadz illahi. Bagian kecil yang tertidur mengintip lalu terbangun. Sisanya duduk dalam hening. Bepetualang dengan penafsirannya masing-masing.

Asap mengepul di depan khalayak ramai. Tak hanya penonton, para lakon "Bintang dan Bulan" di panggung ini juga ikut membaur. Saya tak menyaksikan tamu yang disuguhi kotak-kotak makan khusus. Kopi, rokok, dan beberapa piring gorengan ternyata cukup. Forum diskusi tersebut berakhir dengan pertanyaan seputaran sunni, syiah, dan sebuah konspirasi yang entah ditunggangi siapa. 

Melalui acara ini, lebih banyak pelajaran hidup berharga yang bisa saya ambil daripada sekedar melihat 23 laki-laki di tengah lapangan berebut piala dunia. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan moderator saat awal acara dibabat habis. Mungkin digunakan untuk menjawab pertanyaan di benak sebagian besar orang-orang yang hadir di acara tersebut.

Benar saja, Pembicaraan bukan melulu soal syariat. Saya disuguhi dimensi lain, terutama soal identitas bangsa juga perihal islam yang rahmatan lil alamin.

"segoro itu sebuah dimensi, tapi gelombangnya adalah dimensi yang lain" - kata cak nun. 

***

Acara ditutup dengan Do'a-do'a dan sholawat untuk mengawal lahirnya hari baru. Pukul tiga pagi, parkiran kembali penuh. Sebagian orang kepanggung dan bersalaman dengan cak nun. Sebagian pulang dan tak ingin mengkultuskan sesuatu. Namun saya yakin masing-masing jiwa telah tersiram dengan caranya sendiri. 


Thursday, 1 May 2014

1 Mei-hari tipu-tipu nasional

Sebelum memasuki dunia "perbudakan" yang sedemikian ini, senior-senior yang saya kenal dari berbagai universitas kerap mewanti-wanti soal tidak pentingnya pelajaran di perkuliahan. "yang lebih penting itu pola pikir", kata mereka. "Ipk itu cuma buat saringan awal tapi, toh nantinya kamu bakal ditraining, dilatih ulang buat mengikuti sistem, dan bla.. bla.. bla..". Mungkin kita memang dituntut untuk belajar sedemikian rupa guna dibentuk menjadi robot yang mengikuti sistem. Sistem pendidikan yang ada juga masih sangat berhasil membentuk budak robot kualitas unggulan. Atau bisa disebut juga buruh-buruh yang lebih cerdas sekaligus pasrah. Terima kasih pak mentri.

Beberapa bulan ini saya juga resmi menjadi budak industri demi menyambung hidup. Bertemu orang dan mengenal pengalaman-pengalaman baru. Perihal kebebasan yang dikebiri dan keinginan yang dibatasi. Juga soal menyingkirkan empati sekaligus menyembunyikan emosi.

Di pusat-pusat kota besar hari ini, jalanan juga gedung pemerintahan riuh oleh buruh-buruh yang berdemonstrasi. Tuntutannya mungkin tak berbeda seperti tahun-tahun kemarin. Tunjangan, kontrak kerja, dan jaminan kesehatan. Tapi tak ada yang menuntut waktu luang. Mungkin tak banyak yang sadar nikmatnya hari libur dan waktu luang.

Tak semua orang ingin jadi buruh dan tak semua orang ingin jadi juragan. Mungkin ada yang lebih ingin bepergian, jalan-jalan, dan liburan. Mungkin caranya adalah dengan menjadi buruh atau menjadi juragan. Mungkin waktu luang, adalah satu-satunya kesempatan kita menjadi tuan bagi diri sendiri. Untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan passion dan keinginan tanpa pretensi apa-apa. Mungkin "kebahagiaan" yang didengungkan dalam do'a do'a orang-orang sedunia bersemayam di sana. Di dalam waktu senggang. 

Tapi tak ada yang lebih bahagia hidupnya dari orang-orang yang "ahli" berdoa. 

Wednesday, 5 February 2014

A......

Sehari sebelum tanggal yang ditentukan, Jibril dan 7 makhluk bersayap turun ke pelataran Bumi. Memeriksa senti demi senti tanah yang akan dipijak manusia terakhir kali. Tak ada suara cicit burung pagi itu dan Matahari juga bersinar hanya separuh. Gunung menelan gemuruhnya. Angin menahan nafasnya.
***

Dua tahun lalu, Tuhan mengobral kasihnya. Pintu-pintu langit terbuka. Setengah jumlah manusia di muka bumi menyebut namaNya di jutaan tempat ibadah. Di suatu pagi dua tahun yang lalu, para pendosa seakan musnah begitu saja dari muka Bumi.

“Tuhan, Ampuni saya”

“Tuhan, Muliakan hamba sebagai makhlukmu yang paling sempurna”

“ya Tuhan, mudahkan segala urusan kami”

“ ya Tuhan.......”

“Tuhanku.......”

“Wahai yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi........”

“Aaamiinn...”

lantas keganjilan menjadi lumrah dan keajaiban menjadi-jadi.

Malam itu awan membaur dengan langit. Tuhan nyatanya lebih Maha Kasih dari Bill Gates dan Oprah Winfrey. Waktu tak lagi berjalan statis. Segala do’a dari segala jenis umat terjawab selang beberapa hari. Dunia dipenuhi tangan-tangan yang menggenggam harta. Tak ada lagi perempuan yang pasrah dijadikan istri kedua dan wanita simpanan atas nama jaminan masa depan. Tak ada lagi vagina yang dipermainkan sia-sia.

Tak lama setelahnya, dunia dipenuhi orang-orang yang beradab nan cerdas. Tak ada lagi buta huruf. Pengetahuan dan teknologi berkembang kelewat pesat. Tak ada lagi bayi-bayi yang terlahir cacat. Setengah tahun sebelum Jibril kembali menghampiri Bumi, dunia dipenuhi segala hal yang sebelumnya hanya suguhan imajinasi di film-film fiksi.

Setahun berlalu. Kebahagiaan merata di seantero jagad semesta. Tak ada lagi hal yang sia-sia. Tak ada lagi para pengemis dan peminta-minta. Pemerintah di suatu republik bahkan menghapus beberapa pasal dalam undang-undang dasarnya. Di Belahan Bumi bagian manapun, Tak ada lagi pasal yang berbunyi “fakir miskin dan anak-anak terlantar digagahi oleh negara”.
***

Setengah tahun sebelum Jibril kembali menghampiri Bumi, tak tersisa lagi satupun tempat ibadah. Segala hal dapat dijelaskan secara ilmiah. Semua informasi yang manusia butuhkan tersedia di situs pencari. Bahkan, tutorial seputar buang hajatpun tersedia lengkap dengan berbagai versi. Pada jaman itu, bayi berumur 5 tahun sudah fasih melahap buku-buku ensiklopedi. Ritus dan ritual keagamaan menjadi sejarah.

Perlahan langit memerah. Dalam kesunyian, Tuhan membiarkan dirinya disembah dan dihujat. Malaikat-malaikat di kerajaan Tuhan yang Maha Luas harap-harap cemas menunggu Tuhan menitahkan “jadilah”. Maka terjadilah.
***

Seminggu sebelum Jibril kembali menghampiri Bumi. Di belahan bumi sebelah utara, Jibril turun sebagai metafora.......

Saturday, 25 January 2014

Kepada Saya yang Menjadi Peziarah untuk Kisana - Traveller yang Maha Bebas

Di teras dua rumah beberapa tahun silam. 
"kalo ini selesai, ntar kita keliling Jawa dulu, Ini rutenya: Pertama kita kesini.. kesini.. lalu kesini....... terakhir di sini. (sembari menunjuk peta sederhana hasil pengetahuan yang seadanya)."  
"Aku punya bayangan, nanti kamu jadi orang sukses ad. Ayahku juga bilang gitu ke aku. Kamu mesti percaya! Luluso sek, ntar kita keliling, Aku janji."  (25 Agustus 2010)
Hingga hasil postingan ini terpublish, saya masih menyimpan pesan singkat kawan baik saya. Saat itu merupakan tahun yang cukup berat. Tak ada yang lebih menyiksa daripada patah hati dan merasa terpenjara. Tak ada pilihan lain.
"Only hate the road when you’re missin' home..
Only know you love her when you let her go
And you let her go" (passanger - let her go)

Lembar Kartu Hasil Studi saya sukses remuk di tempat sampah. Nasakom. Berantakan. Kesepian dan sinisme menyerang. Saya mempertanyakan cara Tuhan mengasuh hasil kerjanya atas apa yang ada di pikiran saya.

Tahun tahun berlalu. Hidup mendorong saya menciptakan sebuah mahakarya. Wajah kedua. Wadah kosong yang bebas saya isi apa saja. Sebuah buku yang saya baca menjelaskannya dengan cukup baik - Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi. Saya lakukan apa saja untuk bisa bertahan lebih lama, untuk bisa berjalan lebih jauh dari yang sudah-sudah. Sejak awal saya sudah salah strategi. Saya tak pernah tau apa yang saya inginkan. Saya hanya tau apa yang saya sukai. Lalu saya mulai menulis. Tentang apa saja. Setidaknya dalam tulisan, saya menjadi saya.

4 tahun berlalu setelah masa suram itu. Saya tuntaskan yang saya butuhkan. Tapi hidup seringkali  mengajarkan kita begitu keras untuk akrab dengan ketidakpastian dan segala kejutan-kejutan. Mau tidak mau, saya diharuskan untuk ahli menjadi sesuatu yang bukan saya. 

Setelah beberapa waktu memilih bungkam, Hari ini saya ingin mengingatkan Saya tak ingin dengar kabar bahwasannya kamu menghabiskan berpack-pack rokok dalam sehari atas nama pelarian. Segala yang membuatmu kecanduan kelak akan berbalik memusnahkanmu. 

Saya masih menunggu kabar bahagia darimu. kawan lama.




Post-scriptum: Ditulis sembari mendengarkan lagu sheila on 7 - lihat dengar dan rasakan. Latte dan kentang goreng saya sebentar lagi habis. lalu warungnya tutup jam 00.00. 

Sunday, 12 January 2014

menguap berlalu karena tak mampu memilih atau terlalu banyak keinginan?



Sore hari hujan malu-malu mampir ke genting rumah.
Satu persatu tetes airnya menuju tanah.
hujan berziarah.
menapak pada tanah-tanah gunung.
pada sungai. pada laut..

Menjelang tengah siang, bulan tersenyum menunjukkan giginya yang putih,
pasir terhempas menuju kaki-kaki langit.
waktu menangkapnya dalam bingkai-bingkai kecil.
lalu terekstrak menjadi bagian-bagian yang sekarang tak terlihat penting.


Tentang Waktu

Ada segala dalam segelas cappuccino. Perut saya mual. Tapi toh itu tidak penting.

12 Januari. Berkas cahaya tercecer di jalanan aspal yang tertutup basah secara paripurna. Warna-warna yang asal letak dan terkesan dimuntahkan secara serampangan. "chaos" tersebut lantas membentuk sudut-sudut serupa luka yang berdarah-darah. Bekas tirai-tirai air.

Pulang ke rumah pukul 2 pagi tanpa mencemaskan apa-apa menjadi hal yang luar biasa mahal. Hati menciptakan suara sendiri untuk ditujukan pada kepala. Menciptakan persepsi tentang orang-orang tua yang bersiap ke pasar menjual dagangan, perihal penantian kupu-kupu malam betina dan yang setengah jantan di pinggir jembatan, perihal bulan dan awan serupa kapas yang tergantung di langit, perihal pohon-pohon dan kicau burung nocturnal, perihal sekrup-sekrup, perihal manusia yang serupa sekrup dan sesekali serupa batu. 

Akhirnya masa tersebut datang, saat waktu senggang serupa hujan di sahara. Menghabiskan Sabtu malam dan Minggu pagi dengan tidur menjadi hal yang paling merugikan. Sepagi ini saya mendapati diri sedang berselancar di dunia yang terbentuk dari kode dan angka, lalu tersesat di lirik lagu ini: 


"Once"

We worry about work, worry about money
worry if the punch line’s funny
we worry if the sky is gonna fall
we worry about winning, worry about losing
worry about the roads we’re choosing
we worry if that someone’s gonna call

We spend so much precious time tryna figure out
what this crazy maze of a beautiful world is all about

So kick on back, fill your cup
put on your favourite song, turn it up
find a little peace of mind in the sunshine
don’t waste your days looking at the clock
say I love you to the ones you got
don’t leave a lifetime of rights
on the wrong side
‘cos you only live once, once, once
you only live once, once, once

We worry about truths, we worry about lying
we worry about how much we’re trying and
when it’s all gonna come to an end

We spend so much precious time tryna figure out
what this crazy maze of a beautiful world is all about

So kick on back, fill your cup
put on your favourite song, turn it up
find a little peace of mind in the sunshine
don't waste your days looking at the clock
say I love you to the ones you got
don’t leave a lifetime of rights
on the wrong side
‘cos you only live once, once, once
you only live once, once, once

dinyanyikan dengan nada-nada indah nan ceria oleh shane filan yang mantan personil westlife itu. Padahal saya tak pernah menyukai westlife hingga mendekati gila. Tidak seperti dia yang setiap hari saya kirimi surat cinta. Surat-surat yang tidak pernah bisa dibaca, karena yang terjadi adalah surat cinta itu sendiri. 

lalu rindu menjawil-jawil. nakal.

Wednesday, 25 December 2013

Jurnal harian di telepon seluler

Mimpi dan keinginan ini pernah seakan mengiba. Merengek minta dimakamkan dengan layak. Begitulah yang terjadi beberapa minggu ini. Hidup adalah tentang bagaimana menghadapi kejutan-kejutan. Dan hingga tulisan ini dibuat, hutang penantian, perhatian, waktu, dan doa dari orang-orang itu belum juga terlunasi. Kata siapa mimpi dan keinginan sederhana tak butuh biaya dan pertaruhan-pertaruhan?

Beberapa minggu telah berlalu begitu saja tanpa sunyi juga puisi. Ritual ibadahpun pernah sempat terbengkalai atas nama totalitas dan kecemasan berlebih. Penyakit lama itu masih sering kumat. Namun, nominal beberapa digit angka juga akhirnya mampir ke buku tempat keinginan tertunda atau jadi kenyataan (Buku tabungan saya). Hasil basa-basi, tersenyum, dan mencoba ramah di sana-sini ternyata membuahkan hasil juga (walaupun terlihat kecil kata sebagian orang). Namun yang terpenting, saya belajar bahwa
  1. Mendiamkan lamunan dan hal-hal negatif  di dalam kepala dengan mulut adalah pekerjaan yang sia-sia. 
  2. Yang membedakan seorang sarjana dan tidak adalah keinginan untuk tau, untuk mau belajar, untuk berani melawan ketakutan dan segala kekhawatiran. Absolut. Konkrit. Tak terbantahkan.
  3. Diam bisa menjadi senjata yang mematikan.
Setelah beberapa jam "glibukan surfing di lini masa" entah kenapa saya baru tersadar bahwa ada kemajuan-kemajuan yang telah saya capai. Pada hitam di atas putih saya mencoret beberapa daftar kata dalam "to-do-list" dan "Resolusi tahun 2013". Catatan hitam di atas putih tersebut tak lagi menguap jadi kata-kata fantastis di tempat sampah seperti yang terjadi 2 tahun lalu. Jurnal harian saya tak lagi jadi sekedar keluh kesah, namun menjadi sebuah wadah untuk menuangkan hal-hal berlebihan yang tak perlu saya simpan lama di otak. Saya menemukan sunyi dalam suara berisik. 


oh iya, hujan sudah mulai sering mampir di ujung kota, di perempatan lampu merah.........
Tunggu.. kenapa mulai lagi menciptakan kata-kata puitis? 

*post-sciptum: rangkuman catatan harian tertanggal 18 november - 25 Desember 2013

Friday, 15 November 2013

Hujan ber-(p)ulang

Sore ini hujan malu-malu mampir ke genting rumah. Satu persatu tetes airnya menuju tanah. Tak lama, sekrup-sekrup berjalan di kota bergegas pulang. Menuju tempat yang mereka sebut rumah.

Para manusia yang jatuh cinta acapkali mengartikan rumah sebagai tempat di mana hatinya serasa utuh dan lengkap. Rumah menjelma sebagai tempat di mana hati kekasihmu yang maha putih dan berkilau menanti sebagian jiwanya. Menantimu.

***

17.00. Hujan mulai menderas. Kau mempercepat langkahmu pulang. Mana peduli kau pada apapun di jalan. Mana peduli kau dengan seseorang yang cemas menunggu angkutan kota yang berjalan lambat dan seringkali berhenti secara brutal.

17.30. Kau menderu kuda besimu tanpa peduli pada apapun kecuali suara kekasih yang kelak menyambutmu datang. Di jalanan yang mulai memadat, siluet bau pisang goreng yang baru saja matang tiba-tiba memenuhi kepalamu. Lantas diteruskan oleh bau harum sabun dan shampo yang selalu di pakai kekasihmu. Dan ilusi tersebut lantas akan diakhiri oleh relik bau khas liur juga keringatmu yang menempel di bantal, guling, dan kasur. Bau yang tiba-tiba begitu kau rindu selain kekasihmu.

Waktu hampir menunjukkan pukul 18.00 petang. Cahaya oranye menyelimuti jalanan aspal yang basah oleh hujan. Langit sudah resmi berselimut gelap. Azan Maghrib berteriak lantang minta dipedulikan. Kau hanya ingin menuju rumah. Tuhan Maha Pengertian.

***

18.30. Pintu terbuka perlahan. Anak kecil berlari menyambutmu datang, lantas bertanya ini itu soal mainan yang kau janjikan. Di ruang tamu, ayah, ibu, dan kakakmu sedang menonton tv. Di atas meja makan, seloyang pizza yang masih hangat menertawaimu yang basah kuyup bermandikan hujan dan asap knalpot pejuang cinta bermobil hitam.

18.15. Kau bergegas mandi dan mempedulikan Tuhan. Tapi, kekasihmu tak kunjung datang dan memelukmu mesra dari belakang. Tak juga lantas melingkarkan lengannya di pinggangmu dan mendaratkan kecup sayang di kening, pipi, dan kedua matamu yang seharian terbebani tanggung jawab. Kekasihmu tak ada di sana. Tidak di ruangan manapun yang kau buka pintunya.

18.45. Telepon genggammu berdering kencang. Akhirnya kau benar-benar pulang. Kau berada di rumah.

"hallo........ "
suara yang kau tunggu seharian penuh.

Thursday, 10 October 2013

Sebelum Puncak tertinggi di Pulau Jawa

Perjalanan saya akan di mulai pada tanggal yang belum ditentukan. 5 tahun lebih saya memendam keinginan yang saat itu sangat substil. 2008 keinginan untuk menjadi avonturir mulai lahir. 2008 kalimat so hok gie soal mengenal alam, mengenal diri sendiri, mengenal Indonesia perlahan telah menggerogoti apa-apa yang tersisa dari saya yang saat itu sedang patah hati. ya, satu-satunya obat patah hati adalah pergi sejenak membenamkan diri pada buku dan hal-hal yang menarik. Saat itu saya hanya mampu mengakrabi sunyi, kendati saya ingin pergi lebih jauh daripada angin gunung yang membawa debu vulkanis di angkasa.

2009 saya mengenal Gunung Semeru dari atap sebuah rumah. Juga dari berbagai buku dengan deskripsi yang luar biasa biadabnya. 2010 saya menyapa puncaknya dari kaldera Bromo. Melambaikan tangan tanda takjub pada kemegahannya. Saya jatuh cinta pada ranu kumbala kendati belum pernah bertatap muka. Tapi cinta saya lagi-lagi tak kesampaian kala itu. Bahkan pada hal yang tak memiliki nyawa. Menyedihkan.

2013 awal Semeru mulai kehilangan kemegahannya sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa. Kaum Urban dan social-media menggagahi segala pesonannya. Sebagai contoh kecil, rerumputan di pinggir Ranu yang terpangkas jejak-jejak para "pekemah" sejak era film bombastis 5 cm tayang di bioskop. Mungkin sekarang masyarakat kota yang apatis semakin menyadari potensi alam di negri ini dan Semeru tak lagi sepi. Namun yang pasti, roda ekonomi penduduk di sana semestinya berputar lebih dahsyat lagi. Sekalipun harga yang harus dibayar kelak adalah semakin minimnya destinasi yang sunyi, teduh, nan syahdu untuk dinikmati.

Seperti banyak lokasi wisata lainnya, semua tinggal menunggu waktu hingga seorang "investor" datang dan menjalin "kerjasama" dengan pemerintah daerah setempat. Namun apapun yang terjadi, semoga nilai-nilai luhur masyarakat di sana tetap terjaga dan semoga para pengunjung tidak menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan sampah urban seperti yang sudah-sudah. Karna kelak, saya juga akan menziarahi keindahannya beserta anak dan sang istri. 
*** 

Sekarang, genap 5 Tahun saya "berpuasa" memendam keinginan terdalam untuk menuju puncak tertinggi di pulau Jawa tersebut. Memperoleh ridho Ibu untuk kesana itu bukan perkara mudah. Berkali-kali saya memendam rasa kecewa yang mungkin dianggap remeh beberapa orang. Butuh proses yang panjang, berbelit dan menyakitkan.

"Jangan kesana dulu sebelum kamu selesaikan kuliahmu, urus skripsimu!"
mendengar hal tersebut saat pikiran sedang semrawut adalah hal yang menyakitkan.

Memang benar, menjadi kaya itu tak perlu ijazah, untuk bepergian tak perlu persiapan yang terlampau matang, tapi ridho Tuhan itu ridho-nya orang tua. Seperti kata seorang teman yang entah dia baca dari mana. "urusi orang tuamu, maka Allah yang akan mengurusmu." singkat tapi bermakna dalam. Saya tak ingin menyesal.


Hanya orang yang berpuasa dapat merasakan nikmatnya berbuka.  
Saya sering mendengarnya dari para ulama selama bulan puasa. Semu kedengarannya. Namun saat diucapkan oleh seseorang yang "tadinya" berpuasa (mokel), hasilnya akan lebih mengena.

Menyelesaikan skripsi atau tugas akhir hingga tuntas dan lantas dinyatakan lulus adalah soal niat dan kemauan. Bukan melulu soal kata-kata fantastis di blog,  lini social-media, dan buku harian. Hasilnya, Bulan Oktober ini penantian saya usai sudah. Tugas saya demi memperoleh gelar akademis selesai. Tanggung jawab akademis saya tuntas. Amanat ibu dan almarhum ayah telah saya penuhi. Kendati bukan sebagai lulusan terbaik dan menyandang gelar cum-laude, namun rasa bangga dan kebahagiaan dapat saya lihat di mata ibu saya begitu juga di mata orang tua wisudawan-wisudawati lainnya. Membahagiakan orang yang tercinta dan tak lelah berjuang untuk saya itu memang selalu lebih menyenangkan. Pada akhirnya ada kebahagiaan lain yang lebih bermakna daripada ngotot memenuhi ego dan selalu ingin membahagiakan diri sendiri.

Kegembiraan yang lain adalah akhirnya bisa mempublish draft tulisan ini setelah saya biarkan vakum selama beberapa bulan. Bukan bermaksud sombong ataupun keminter, namun hari ini adalah bukti nyata bahwa saya berhasil. Tulisan saya kali ini bukan sekedar omong kosong tanpa tindakan nyata dan makna. Tulisan ini kelak menjadi pengingat bahwa saya berhasil melawan kelemahan diri dan mengatasi segala ketidaknyamanan yang kemarin sempat saya hadapi.

Bulan ini, saya mencapai checkpoint yang kesekian dalam hidup. Sekarang saatnya saya "berbuka puasa". Kali ini dengan kekasih. Kemana perjalanan kami harus bermula? Pelaminankah? heueheueheu...

Seperti segala pencapaian dalam hidup, berbekal cinta juga ridho Tuhan dan ibu, puncak Mahameru juga hanya soal waktu. Dengan Menyebut NamaNya yang Maha segala. 

mendung cuma numpang lewat. kisana. 


Friday, 19 July 2013

pada suatu pagi yang cerah, matahari bersinar seperti biasa.
jalanan dipenuhi kendaraan bermotor dan orang-orang berbaju takwa,
juga kopiah dengan aneka rupa dan warna yang tak senada.

pembunuh, pemerkosa, koruptor, dan para pelaku 7 dosa tak terampuni keluar dari sel-sel persegi.
petuah yang sama kembali didengungkan kesekian kalinya di halaman penjara.
tak ada yang berubah kecuali apa yang terbersit di antara sepersekian detik

lapangan rumput perlahan dipenuhi koran dan sajadah.
langit dinodai balon-balon gas hidrogen yang tak sengaja lepas dari genggam tangan para balita.
 
setelah hari itu,
semuanya makin mudah diingat kepala.



Monday, 1 July 2013

kepekaan yang kau katakan itu bernama "omong kosong"

mari kawan, kita kenang idealisme orang-orang baik sekali lagi. 
Baru semalam, saya berusaha mencerna ulang kisah balada si Roy. Bagi saya, Roy adalah tokoh fiktif yang hampir nyata. Gol a gong berhasil membuat rekaannya tersebut bernyawa. Saya pun tiba-tiba teringat seorang kawan yang acap kali berkata bahwa seorang pejalan, (avonturir atau apapun saya menyebutnya) hendaknya selalu dan kelak akan lebih peka terhadap apa saja. "dengan berjalan, kita akan lebih peka", begitu yang ditasbihkannya berulang-ulang. 

Perjalanan dapat menjadi sebuah pelarian, tapi tak pernah mengajarkan soal lari tanggung jawab. Lari dari tanggung jawab bukan sikap dan laku seorang pejalan, tapi sikap dan laku seorang pengecut. Dan pengecut, bukanlah seorang pejalan. Lebih pantas disebut sebagai buronan. 

Perjalanan tak akan pernah mengajarkan bahwa ada tempat yang lebih baik selain rumah, di mana kedamaian menidurkan diri, di mana kepekaan yang kita cari dibutuhkan sekali. Kembali, bukankah perjalanan harusnya mengajarkan kita soal laku peka dalam apa saja, bukan hanya perihal kehidupan sosial?  

Saya pun teringat dengan salah satu paragraf yang ada di belakang buku Agustinus Wibowo,
"hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan."
***

Dalam adegan terakhir film into the wild, Alexander Supertramp sang tokoh utama membuat saya mengambil kesimpulan. Bahwa mereka yang sekarat, adalah yang orang benar-benar disentuh kehidupan. Ada pejalan yang berhasil menemui kedamaian yang dia cari namun ada pejalan yang mati dikoyak sepi dan kesombongannya sendiri. Menyedihkan sekali rasanya melihat sebuah potensi membumi hanguskan akalnya karena kesombongan dan ilusi perihal hak milik. Hak milik terhadap kehidupan yang saya sebut saja, kelewat batas. 

ah, malam tadi pikiran saya dipenuhi asumsi, pertanyaan, dan teori-teori. Apakah seorang pejalan berangkat dari sikap "sok tau" yang berlebihan? atau justru berangkat dari ketidaktahuan? dari sebuah laku kerendahan hati? karena hal tersebut, bukankah ini berarti perjalanan tak pernah mengajarkan sebuah laku kesombongan? 

Sebuah laku kesombongan, tak pernah mengajarkan saya apa-apa selain menyediakan sebuah hal fana bernama eksistensi. Namun, bagi saya, ada sebuah hal yang lebih menawan daripada sekedar terlihat eksis dalam berkuasa dan menguasai. "dihormati". Saya mempelajari hal ini dari rocker yang jadi pelantun lagu on clinic dan dari pengacara yang menjadikan sumpah pocong sebagai penegakkan hukum tertinggi. Apalah artinya sebuah eksistensi jika tak dihormati? "respect" tak akan pernah bisa dibeli. 

Seandainya hidup tak mengajarkan kita perihal laku sosial, tentu kita bisa lebih masa bodoh dengan keadaan dan norma-norma yang ada. Atau secara sederhana, seandainya manusia yang mati bisa mengubur dirinya sendiri.

Blogger picisan seperti saya juga ingin dikenang dengan meninggalkan nama baik dan mahakarya puitik. Tapi jauh daripada itu, saya lebih memilih dikenang sebagai pribadi yang mampu menjaga amanah. Terutama amanah ibu yang membesarkan saya.

kita peka karena perjalanan, atau kita berjalan karena kepekaan? ataukah kita sedang berjalan menuju tanah lapang tempat idealisme dimakamkan. idealisme orang-orang baik.

Monday, 3 June 2013

Pagi sendu

Belum genap pukul 6 pagi saya terbangun dengan sisa-sisa hantaman kafein di kepala. Secangkir ramuan bubuk kopi yang dicampur biji cabai sukses menjadikan jam tidur saya nyaris habis terpangkas. Biasanya saya malas untuk membuka laptop lantas menulis sepagi ini, namun berkat seseorang saya belajar, tak pernah ada orang bijak yang bangun kesiangan. Sepertiga malam hingga matahari muncul di kaki awan, pagi selalu diselimuti hal magis. 

Sepagi ini Kota Megapolutan juga telah menggeliat. Bak para gladiator, Skrup dan bidak-bidak hidup yang disebut kaum urban tengah bersiap menyambung masa. Baju zirah dan pedang telah digantikan kemeja berdasi, ijasah, dan bekal pelatihan sebuah korporasi. Bidak-bidak bernyawa tampak kembali turun ke gelanggang demi meraih kebebasan dan kemuliaan yang sekarang bernama jabatan dan pengakuan tetangga.

Mesin-mesin dihidupkan. "gear-gear" berputar. Robot-robot yang butuh tidur mulai bergerak secera otonom dengan sumber energi baru hasil kreasi para "motivator". Pada masa ini, robot tak butuh sumber energi mahal dan tak ramah lingkungan. "harapan". Robot-robot sekarang mampu bergerak bahkan membunuh tanpa ampun hanya berbekal "harapan". Sumber energi tersebut dapat lebih tajam dari sebuah mata pisau victorinox keluaran terbaru. Yang asli, bukan "tembakan" asal negri bambu.

Beberapa hari ini saya kembali mengakrabi pagi. Pagi setelah dua pertiga malam resmi dilewati. Pagi setelah hujan di awal bulan Juni. 

Tuesday, 7 May 2013

Mendung Hanya Numpang Lewat

Dari kejauhan, petir menyalak perlahan. Langit sedang menyiapkan sajak. Meluruhkannya lewat rintik hujan di sepertiga malam. Makhluk bernyawa menyimak sabda semesta dengan khidmat. Sedang tubuh penyair picisan kalap menyantap semangkuk indomie hangat. Apatis. Terutama soal kisruh ujian nasional di seantero negri yang sekarat.

Beberapa kilometer di bagian Selatan kota mega polutan, lelaki itu terjaga. Lelah membaca jurnal ekonomi, ia memperhatikan berita dan perkembangan perihal apa saja dari kotak sampah yang disebut TV. Namun, bahkan pada sampah itu ratusan orang menggantungkan asa, Rupiah dan masa hidup yang lebih lama. Karunia pun dapat menjelma selayak berhala.

Sejak minggu kemarin, lelaki itu memikirkan perihal cita dan pundi-pundi materi. Perihal pencapaian dan jati diri. Ekspedisi yang sejauh ini masih diberi label "mimpi". Penyesalan terbesarnya bukan karena tidak ikut organisasi kemahasiswaan serupa Badan Eksekutif Mahasiswa, namun karena kepengecutannya meninggalkan rumah, lantas bergabung sebagai seorang Mapala atau dewan pers mahasiswa. Sekarang dia benar-benar kehilangan arah. Terutama setelah membaca coretan So Hok Gie yang mengutip tulisan Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the Earth.”

Di luar, mendung lagi-lagi hanya numpang lewat. Hawa pagi kian memanas. Lelaki itu sekali lagi membaca ulang sajak dan puisi usang yang belum pernah menghasilkan uang. Pikirannya terpenjara pada tugas akhir yang semakin erat mengikat. Hari kemarin seorang kawannya menyampaikan sebuah pepatah klise "lakukan yang kamu cintai atau cintai yang kamu lakukan". Lelaki tersebut memaknai ini seperti duduk di atas sebuah tungku yang masih menyala. Malam ini lelaki itu sadar, ada yang lebih menyakitkan dari rindu yang tak berbalas, terpaksa mengerjakan sesuatu yang tak disukai, namun mendesak minta diselesaikan.

***

Perempuan itu tertidur lelap. Di mimpinya malam ini ada dua pasang sepatu yang di letakkan begitu saja di bawah pohon yang dedaunannya rimbun. Ada dua helai kaus yang baru saja jatuh pada hamparan pasir pantai yang halus. Ada jejak-jejak kaki telanjang dan bekas penat yang seketika dihapus ombak. Ada renyah tawa bahagia dan kecipak air yang harmonis sekalipun tak pernah senada.

"saya rindu kamu." lelaki itu mengigau.

Thursday, 18 April 2013

Jarak dan sebaris pesan

Minggu ini salah satu kawan saya akan menjalani sebuah ritual kedewasaan. Menjadi seorang pangaranto seperti halnya anak lelaki berdarah Batak lainnya. Sebut saja namanya Lugar (nama sebenarnya). 

Saya dan Lugar pertama bertemu pada tahun 2004 sebagai kawan sekelas saat SMA. Dan 3 tahun setelahnya kami dipertemukan lagi, kali ini di universitas dan jurusan yang sama. Tapi terhitung minggu ini, akhirnya kami berada di jalur yang berbeda. Sama seperti nominal angka pada umur kami. Saya masih berkutat dengan tugas akhir kuliah, sedangkan Lugar yang baru saja di wisuda Maret lalu akan meniti karir di Pontianak.

Saya mengenal lelaki berpostur "sedikit melebar" ini sebagai satu-satunya kawan yang hampir sangat tidak mungkin memperlakukan wanita dengan cara yang salah. Mutlak. Gurunya adalah sang kehidupan itu sendiri. Bersama ke empat sahabat saya semasa kuliah, kami mengenalnya sebagai seorang lelaki yang sangat sayang pada keluarga. Terutama pada Ibunya, Lugar tidak lagi bisa disebut patuh, lebih dari itu, dia hormat dan tunduk. Saya mengetahui benar bagaimana kawan saya tersebut kerap tidur larut demi membantu ibunya berjualan, mencari nafkah. Jika benar kedudukan Tuhan dan seorang Ibu hampir setara, maka jelas hanya soal waktu hingga dunia pun tunduk pada kaki kawan saya yang satu ini.

Beberapa malam ini dia gundah, minggu ini dia harus bersiap melepas apa yang telah melekat dalam hidupnya. Jauh dari rumah, jauh dari peradaban mega polutan. Tapi seperti hal sederhana lainnya, seorang Ibu tak akan lupa mengucapkan nama anak-anaknya dalam do'a. Begitu pula dengan kami kawan-kawan yang akan bergantian atau secara bersama-sama akan menggoda pemuda tambun ini sesekali waktu lewat perangkat seluler.








 being grown up...












seorang motivator ulung acap kali berucap,

"takkan lahir pelaut ulung dari laut yang tenang."

Ada sebuah filosofi kuno yang kerap diucapkan orang tua dari tanah Batak. anakkonhi do hamoraon di au atau secara sederhana dapat diartikan "anaklah kekayaanku". Akan tiba masanya, hal ini akan lebih dari kita pahami. Maka jaga dirimu di sana kawanku dan semoga berhasil di perantauan. Tahun ini mudah-mudahan aku menyusul pergi. Selamat menjalani hidup baru.

p.s.:
*Pangaranto = Merantau = pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dsb); pergi mencari penghidupan ke tempat yg tidak berapa jauh;